Selasa, 31 Agustus 2010

Sebuah Renungan..

Kehidupan saya berubah sejak umur 25 tahun, saat itu saya menikah dengan seorang pria yang karakternya bertolak belakang dengan karakter saya, seminggu setelah menikah, Saya pindah ke rumah kontrakan.

Tidak terlalu terasa perubahannya, hanya seperti punya teman baru saja, mungkin karena waktu itu saya masih bekerja sebagai desainer interior. egosentris, ya, semua berpusat kepada saya. Yang saya pikirkan adalah Saya sendiri dan kesenangan saya, masalah lain, bisa diatur. Bila efeknya cucian menumpuk, ada suami bersedia mencucikannya, setrikaan menggunung, ya..disetrika masing-masing. Apalagi soal beres-beres rumah, kalau ga sempat ya ga usah dipel. So simple.. yang penting saya senang..haha..nampak egois, tapi begitulah awal-awal kehidupan pernikahan saya

Perubahan terasa sejak saya memutuskan untuk berhenti bekerja. Ya, berhenti dari pekerjaan dan memilih untuk menjadi Ibu Rumah Tangga..Hmm..nampak pilihan yang tidak keren ya? Tapi itu memang tekad saya sejak masih kuliah. Buat saya, kehidupan berawal dari rumah. Kesuksesan suami dan anak-anak bermula dari rumah.Kalaupun perlu aktualisasi diri, haruslah berpusat dari rumah. Karena itu saya sudah mempersiapkannya juga sejak kuliah, bercita-cita mempunyai konsultan desain dan workshop sendiri.

Ternyata bukan hal yang mudah, saya yang terbiasa aktif tiba2 berhenti bekerja. Rencana yang sudah dibuat pun, ternyata tidak berjalan seperti yang diinginkan. Belum lagi pekerjaan sebagai IRT yang mulai terasa membosankan. Disitulah saya merasakan stress yang biasa disebut Post Power Syndrom. Merasa diri tak berguna. Ditambah lagi perkataan orang-orang yang semakin menyudutkan..

“ngapain kuliah di ITB kalo ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga”

atau..

“kalo cuma mau ngurus anak, ngga usah susah-susah masuk ITB”

Hmm..Saat itu, saya tidak suka kalau ada yang menyebut saya ibu rumah tangga, lebih suka disebut freelancer. Walaupun kenyataannya, sampai hari ini, pekerjaan saya ya ibu rumah tangga :)

Tapi, saya masih bisa cuek. Pelariannya, waktu sering saya habiskan untuk aktualisasi diri, mencari ilmu, aktivitas dakwah dan jalan-jalan ke toko buku atau mengerjakan proyek kecil-kecilan bersama teman. Kalau soal memasak, tetap harus saya lakukan, karena suami saya lebih suka masakan yang dimasak istrinya sendiri, agak repot memang, tapi cukup saya nikmati. Masalah lain masih bisa diatur.

Kondisi jadi berubah sejak anak pertama saya lahir, perubahannya benar-benar terasa. Apalagi setelah kembali tinggal di rumah, bertiga dengan suami dan seorang bayi yang tak berdaya. Tanpa kulkas dan mesin cuci, rasanya begitu repot dan melelahkan. Sejak saat itu, pilihan saya pun berubah. Semua berdasarkan keluarga. Kalaupun tidak ingin pergi belanja ke warung, itu berarti kami bertiga tidak makan. Kalau tidak mencuci, berarti faiz tidak memakai baju kering. Tak lagi bisa dengan leluasa menikmati sebuah buku, apalagi jalan-jalan ke toko buku. Begitulah, pilihan pun diambil berdasarkan pertimbangan keluarga; suami dan anak.

Bukan hal yang mudah memang, apalagi jika pilihan yang diambil harus mengorbankan keinginan pribadi. Tapi saya pikir ini jauh lebih penting, di situlah ibadah yang sebenarnya. Di situlah, mengapa pahala menjadi seorang ibu begitu besar.

Saat ini, Allah mempunyai takdir lain buat Saya. Saya memang tidak mempunyai konsultan desain dan workshop sendiri, tapi punya online shop dan workshop jilbab. Semua dijalankan dari rumah seperti cita-cita saya. Allah mengganti mimpi saya, dengan hal lain yang jauh lebih indah. Tapi, pilihannya menjadi lebih sulit. Tidak hanya suami dan anak, tapi juga karyawan. Saat lelah melanda dan ingin berhenti sejenak, lalu bagaimana dengan karyawan dan keluarganya? Apakah mereka menjadi tidak makan karena kelalaian saya? Lalu bagaimana kelak saya mempertanggungjawabkannya di hadapanNya?

Di usia saya yang genap 27 tahun, saya harus lebih keras lagi. Saya berharap, menjadi lebih dewasa dalam mengambil pilihan hidup, lebih bisa mengatur waktu yang hanya 24 jam, sehingga tidak ada hak orang lain yang dizhalimi : Suami, anak dan karyawan-karyawan saya. Semoga keberkahan selalu mengiringi hari-hari saya dan keluarga. Amin

6 komentar:

  1. Amiin...semangat Shin! hahaha...hampir mirip dgn pengalamanku sendiri, ngapain kuliah ITB trus jadi ibu RT? Insya Allah ini yg terbaik yah :)

    BalasHapus
  2. mel: hai.. senasib nih kita hehe.. lahiran beda sebulan ya? eh apa sehari??

    iya mel, justru karena kuliah di ITB mesti jadi ibu RT yang beda dong, karena ternyata ngga gampang yah ngedidik anak..huhuu.. Ga nyangka mel, ternyata Ben pengen istrinya jadi IRT yah? kiraiinn..xixixi..

    btw, gimana kabarnya akhtar? salam yah, buat akhtar. udah siap2 mau disapih? sharing2 yak?

    Mita: ah mita bisa aja :">

    BalasHapus
  3. Anonim7:40 AM

    so what gt loh klo ITB????*$#

    BalasHapus
  4. Almamater saya mbak/mas. Susah juga ya,almamater dibawa-bawa kemana-mana, kalo terjadi sesuatu sm kita kan, yang ditanya pasti "lulusan mana? kerja dimana?"

    BalasHapus
  5. salam kenal mbak.
    sama nih. saya juga alumni ITB.
    kalo cibiran orang sih pastilah. ketika saya mutuskan jadi IRT. tapi ketika bapak dan ibu tampak kecewa, itu beraat sekali. alhamdulillah berjalannya waktu, setelah melihat perkembangan anak2ku yg beda sama cucu lainnya yg ditinggalkan ke pembantu, pandangan kecewa itu berubah.
    terlebih ketika saya nekad membuka toko jilbab online, padahal tak sekalipun pernah membeli secara online :P
    dan alhamdulillah, saya bisa bertahan sampai sekarang. terlebih lagi, ibu semakin paham, ketika saya ceritakan, teman sekelas saya di ITB , lulusan swedia, PhLic, langsung tanpa ragu memutuskan jadi IRT ketika anak pertama dalam kandungan. tugas sebagai ibu memang selalu menyedot kita, dan semoga darisanalah kita bisa belajar banyak ttg kehidupan. salam kenal mbak. kapan2 mampir ya kesini :
    http://www.heniprasetyorini.blogspot.com

    wassalam

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...