Sabtu, 16 Februari 2008

Aku bahagia sekarang, bukan besok atau nanti

Hari itu, kusempatkan untuk berkumpul bersama teman lama. Teman-teman seperjuangan, berjuang menyelesaikan kuliah bersama maksudnya :) biarpun pada akhirnya selesainya beda-beda. Tak ada alasan khusus kenapa aku mau datang di tengah bejibunnya kerjaan, mumpung lagi pada di Bandung, kapan lagi bisa silaturahim seperti ini?

Kalo dipikir-pikir sih, seharusnya aku minder sama teman-temanku ini. Sebagian dari mereka bisa dibilang cukup sukses dalam urusan dunia. Masih muda, tapi jam terbangnya sudah lumayan. Ada yang bekerja di konsultan asing yang terkenal, ada yang menclok ke beberapa negara karena kerjaannya, bahkan ada yang sudah beberapa kali masuk televisi dan dianggap sebagai seorang profesional. Tapi, karena aku memang cuek, aku nggak pernah dipusingin sama masalah-masalah seperti itu. Just enjoy our life! Itu prinsipku.

Ketika aku datang, seorang dari mereka bilang ” kirain lo ga bakal dateng shin, biasanya kan gitu. Bilang aja mau ngumpul, ujung-ujungnya Cuma SMS, sori, ga bisa dateng” aku Cuma senyum, ingat dulu paling susah kalo diajak ngumpul. Setelah saling menyapa, kita bernostalgia dan mengalirlah cerita-cerita seru masa kuliah dulu.

Semakin lama, pembicaraan semakin meningkat jadi lebih serius. Dari cerita masa lalu, akhirnya seperti biasa, berencana bikin bisnis bareng (lagi) untuk bekal masa depan. Tapi bukan itu bagian menarik yang ingin kubagi di sini.

Di sela-sela pembicaraan, seorang teman, mengeluh tentang pekerjaannya. padahal dia bekerja di perusahaan asing dengan gaji dolar. Dia cerita banyak, tentang teman kantornya, bosnya, dan suasana kerja yang menurutnya kurang nyaman. Tak lama, temanku yang sering keluar negeri juga cerita tentang ketidakpuasannya terhadap pekerjaan yang dijalaninya sekarang. Tak berhenti di sana, akhirnya satu persatu teman-temanku itu mengeluh tentang pekerjaannya, padahal sepertinya hampir semua orang ingin memiliki apa yang sudah diraih teman-temanku itu. Tapi semuanya punya kesimpulan yang sama : ingin keluar dari tempat kerjanya dan mencari yang lain. Aku, yang tadinya ingin bercerita dengan ketidakpuasan dalam hidup yang aku rasakan jadi terdiam. Sepertinya ga ada yang sempurna, semua punya kekecewaan masing-masing. Dan kita akan selalu kecewa jika tak pernah menikmati yang kita miliki. Akhirnya aku hanya menyimak cerita teman-temanku itu.

Tiba-tiba, seorang dari mereka bilang ”kayaknya yang paling enak jadi shinta ya?”. aku hanya diam sambil tersenyum. Padahal, seperti yang sudah aku bilang di awal, aku yang paling biasa di antara teman-temanku itu. Kalo saja mereka tahu, ada banyak kekecewaan yang juga ingin aku ceritakan.

Hmmm...Hidup itu, tergantung sudut pandang kita. Kalau ukurannya orang lain, kita takkan pernah puas. Padahal setiap orang juga punya permasalahan sendiri-sendiri, kekecewaan sendiri-sendiri. Kenapa kita ga pernah bilang ” ya, aku bahagia dengan apa yang aku miliki sekarang” bukan dengan apa yang ingin dimiliki.

Dan sekarang, ayo kita bilang ”aku bahagia sekarang, bukan besok atau nanti”

Senin, 11 Februari 2008

Terus Melangkah...

Terus melangkah, merajut amal berbingkai keikhlasan

berharap akan dipertemukan

dengan mutiara-mutiara terindah dunia sepanjang zaman

di jannah-Nya

Jumat, 01 Februari 2008

Jika engkau cinta...

Jika engkau cinta
Maka dakwah adalah ikhlas
Menghiasi hati, memotivasi jiwa untuk berkarya
Seperti kata Abul Anbiya, “sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku semata bagi Rabb semesta”
Berikan hatimu untuk Dia, katakan “Allahu Ghayatuna”

Jika engkau cinta
Maka dakwah adalah amal
Membangun kejayaan ummat kapan saja, dimana saja berada
Yang bernilai adalah kerja, bukan semata ilmu apalagi lamunan
Sasarannya adalah perbaikan dan perubahan, al ishlah wa taghyir
Dari diri pribadi, keluarga, masyarakat hingga negara
Bangun aktivitas secara tertib untuk mencapai kejayaan

Jika engkau cinta
Maka dakwah adalah jihad
Sungguh-sungguh di medan perjuangan melawan kebatilan
Tinggikan kalimat Allah rendahkan ocehan syaitan durjana
Kerja keras tak kenal lelah adalah rumusnya,
Tinggalkan kemalasan, lamban, berpangku tangan

Jika engkau cinta
Maka dakwah adalah taat
Kepada Allah dan Rasul, Al-quran dan sunnahnya
Serta orang-orang bertaqwa yang tertata
Taat adalah wujud syukurmu kepada hidayah Allah
Karena nikmat akan bertambah melimpah penuh berkah

Jika engkau cinta
Maka dakwah adalah tadhhiyah
Bukti kesetiaan dan kesiapan memberi, pantang meminta
Bersedialah banyak kehilangan dengan sedikit menerima
Karena yang di sisi Allah lebih mulia, sedang di sisimu fana belaka
Sedangkan tiap tetes keringat berpahala lipat ganda

Jika engkau cinta
Maka dakwah adalah tajarrud
Ikhlas di setiap langkah menggapai satu tujuan
Padukan seluruh potensimu libatkan dalam jalan ini
Engkau da’i sebelum apapun adanya engkau
Dakwah tugas utamamu sedang lainnya hanya selingan

Jika engkau cinta
Maka dakwah adalah ukhuwah
Lekatnya ikatan hati berjalin dalam nilai-nilai persaudaraan
Bersaudaralah dengan muslimin sedunia, utamanya mukmin mujahidin
Lapang dada merupakan syarat terendahnya, itsar bentuk tertingginya
Dan Allah yang mengetahui menghimpun hati-hati para da’inya dalam cinta-Nya
Berjuang karena taat kepada Nya
Melebur satu dalam dakwah ke jalan Allah
Saling berjanji untuk menolong syariat Nya



untuk yang terus belajar, membangun cinta
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...